Translate this Blog!

English French German Spain Italian Dutch
Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Minggu, 16 Juni 2013

Pembongkaran jembatan KA Limbanang (1935)


Semula ambo menyangka foto ini adalah foto pembangunan jembatan KA jalur Payakumbuh - Limbanang. Ternyata setelah ambo patut-patut benar alias patuik-patuik bana, teks fotonya menyatakan bahwa ini adalah kodak pembongkaran jembatan KA ke Limbanang. Bukan pembangunan!

Dalam foto terlihat jembatan itu sudah tinggal tonggak-tonggaknya saja. Sedangkan baja pelengkung dan pengaku-nya sudah tangga alias lepas. Pekerjaannya hanya dengan alat bantu sederhana yaitu katrol. Bayangkan berapa banyak tenaga kerja untuk mengangkat potongan-potongan baja itu. Tapi tenaga kerja pada saat itu tentu lah tidak menjadi masalah. Murah dan banyak: anak jajahan. Semurah dan sebanyak bantalan kayu kelas I yang menjadi penyangga tengah jembatan dalam foto. Kalau sekarang tentu perlu uang banyak untuk memperoleh kayu sebanyak itu.

Why? Itulah pertanyaan pertama yang muncul di kepala ambo. Karena dari apa yang ambo baca, jalur ini baru selesai dibangun pada akhir 1920. Jalur ini rencananya sampai ke Manggani yang diketahui mempunyai deposit emas di dalam buminya. Namun ternyata hanya terealisasi sampai ke Limbanang. 

Sampai beberapa detik yang lalu ambo masih beranggapan bahwa jalur KA Payakumbuh - Limbanang tidak aktif karena berakhirnya masa kolonial Belanda. Tapi foto ini bercerita lain. Foto ini bertahun 1935. Artinya  saat itu baru 15 tahun sejak jalur ini selesai dibangun. Belanda pun masih berkuasa. Artinya lagi, yang me-non aktif-kan jalur ini adalah Jawatan Kereta Api Hindia Belanda sendiri. Sekali lagi, why?

Bergegas ambo membongkar koleksi perpustakaan pribadi ambo yang super lengkap: internet. Dengan segala keywords dalam bahasa Indonesia, Inggris dan Belanda tetap tidak membantu menemukan jawaban pertanyaan ambo. (Atau keywords-nya kurang tepat, mungkin? :))

Adakah yang bisa membantu? Whyyyy...?

(Sumber: KITLV)

Minggu, 09 Juni 2013

Peta Padangsche Bovenlanden (1880)

(klik untuk memperbesar)

Kali ini kita lihat sebuah peta koleksi KITLV hasil karya  J.H. de Bussy dari Amsterdam yang bertahun 1880. Peta ini mengambil fokus pada Padangsche Bovenlanden atau Padang Dataran Tinggi alias daerah Darek. Meskipun demikian ada 2 daerah pesisir yang ikut terpotret yaitu Padang dan Pariaman.

Salah satu hal yang menarik bagi ambo mengenai peta-peta lama adalah kerapihan pengerjaannya. Tulisannya begitu spesifik. Tinggi rendah dan kemiringan tulisannya begitu khas. Begitupun tarikan serta tebal tipisnya garis. Belum lagi komposisi dan pemilihan warna yang lembut. Bagi ambo kesimpulannya hanya satu: peta-peta lama yang dikerjakan dengan tangan dibuat dengan sepenuh hati oleh si juru gambar. Ia tidak hanya menjadi sebuah referensi, tapi juga sebuah karya seni.

Kembali ke peta diatas. Banyak informasi menarik yang dapat digali dari peta tersebut. Pertama soal jalur kereta api. Pada saat peta ini dibuat, jalur kereta api hanyalah dari Teluk Bayur - Padang - Padang Panjang - Bukittinggi serta Padang Panjang -Solok - Sawahlunto saja. Sedangkan jalur Lubuk Alung - Pariaman serta Bukittinggi - Payakumbuh belum dibangun.

Selain itu kita bisa melihat bahwa rel bergigi yang dalam legenda peta disebut tandradbaan berada di jalur Kayutanam - Padang Panjang - Padang Luar serta dari Puding (persimpangan jalan ke Batusangkar) sampai sebelum Ombilin di tepi danau Singkarak. Selebihnya adalah rel biasa.

Tempat perhentian kereta api juga dibedakan antara stasiun dan halte. Stasiun ada Teluk Bayur, Padang, Kayutanam, Padang Panjang, Bukittinggi, Solok dan Sawahlunto. Sedangkan perhentian lain disebut halte. Jadi tidak semua disebut stasiun sebagaimana yang biasa kita dengar.

Kedua soal jalan raya. Secara umum jalan raya yang kita kenal sekarang sudah ada dalam peta ini. Hal ini sejalan dengan yang pernah diposting sebelumnya (lihat disini). Namun demikian tetap ada hal-hal menarik yang dapat kita lihat. Salah satunya adalah kalau kita mau ke Lubuk Sikaping dari Bukittinggi, kita tidak bisa melewati Palupuh, karena jalannya belum ada. Kita harus memutar ke Matur dan Palembayan baru kembali bertemu dengan jalan yang kita kenal sekarang ketika mendekati Bonjol. Untuk ke Matur pun kita tidak bisa lewat Padang Luar, karena jalannya tidak ke arah sana. Tetapi melewati ngarai Sianok, yaitu Panta. Selain itu jalan selingkar danau Maninjau dan danau Singkarak juga belum ada. Demikian juga dari Batusangkar kita tidak bisa keluar di Baso. Tidak ada jalan. Keluarnya di dekat Payakumbuh saja (Piladang).

Didalam peta ini sudah tergambar kelok 44 dengan lika-likunya yang banyak. Artinya kelok 44 dibangun sebelum tahun 1880. Selain itu ada satu ruas jalan yang saat ini jarang terdengar, yaitu Suliki - Bonjol. Mungkin jalan ini dibangun hanya untuk kepentingan militer pada saat perang Padri saja?

Satu hal lagi, di dalam peta ini juga tercantum lokasi kedudukan gubernur, residen, asisten residen dan kontrolir. Sayangnya untuk residen, asisten residen dan kontrolir simbolnya sama: bulat. Yang membedakan hanyalah ukurannya. Di dalam legenda kelihatan jelas beda ukuran bulatan itu. Terbesar adalah residen, terkecil kontrolir. Namun di dalam petanya, beda ukuran itu tidak terlalu jelas, apalagi antara asisten residen dan kontrolir. Mungkin pada saat itu tidak masalah karena semua orang yang membaca peta ini mengerti tentang struktur pemerintahan di Sumatra Westkust. Namun untuk kondisi sekarang bisa membuat kita bingung. Ambo, contohnya.

(Sumber: KITLV)


Senin, 13 Mei 2013

Gerbang Tuan Siteneng (1910)


Sebuah foto koleksi KITLV yang memperlihatkan sebuah gerbang megah melatarbelakangi pose sederetan penghulu bersama seorang pejabat kolonial beserta anak perempuannya.

Pejabat tersebut bernama Louis Constant Westenenk. Anaknya bernama Pauline. Begitulah yang tertulis di caption foto. Lokasi pengambilan ada di Padangsche Bovenlanden alias Padang Darek. Kalau melihat catatan tahunnya, pada masa itu Westenenk adalah Asisten Residen Tanah Datar. Artinya berkemungkinan foto ini dikodak di Fort van der Cappelen alias Batusangkar sekarang.

Beberapa hal menarik tergambar di foto ini. Pertama, gerbangnya yang megah dengan motif yang menawan. Gerbang apakah itu dan dimana letaknya? Untuk hal ini saya tidak punya jawaban. Tetapi begitu di zoom, dalam pandangan saya gerbang ini terlihat seperti terbuat dari anyaman bambu. Dengan demikian saya menyimpulkan bahwa gerbang ini dibuat untuk suatu event dan sifatnya tidak permanen. Yang perlu dipujikan adalah kerapihan dan ketelitian detail corak dan pengerjaannya sehingga hasilnya terlihat sangat bagus. Setidaknya dalam foto hitam putih :)

Kedua, semua penghulu dalam foto memakai saluak, tapi dengan pakaian jas tutup dan celana putih serta bersepatu. Bahkan ada yang bersepatu putih seperti tuan-tuan berhidung panjang. Ada juga yang memakai jam kantong. Artinya mereka adalah Be-Pe-Be alias Bukan Penghulu Biasa. Berkemungkinan mereka adalah para Angku Lareh dalam Afdeling Tanah Datar. 

Ketiga, lihat bagaimana posisi Asisten Residen. Tidak simetris ditengah-tengah kerumunan, tapi agak di sebelah kanan kamera. Dan membawa anak pula. Sesuatu yang tidak biasa untuk sebuah pose yang 'setengah' resmi begini. Jawabannya mungkin adalah karena kemampuan Westenenk untuk berbaur dan berkomunikasi sehingga para penghulu tidak merasa kagok menempatkan Asisten Residen dan anak perempuannya agak ke pinggir.

Sejatinya L.C. Westenenk mungkin adalah salah satu pejabat kolonial yang paling populer di Ranah Minang - bahkan mungkin di Sumatera- pada akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Dia dikenal menguasai bahasa Minang dengan fasih serta mengerti dengan hukum adat Minangkabau.

Dilahirkan di Semarang pada 2 Februari 1872, belajar soal Indologi di Delft dan lulus pada 1892. Pertama ditugaskan di Bandung lalu ke Kalimantan Barat. Disana ia ikut menangkap pejuang Raden Paku pada 1896.

Perkenalan pertamanya dengan Ranah Minang adalah ketika ia ditugaskan di Payakumbuh pada 1897. Pada 1898 ia dipindahkan ke Sawahlunto sebagai kontrolir VII Koto sampai ia dipindahkan ke Aceh pada 1900. Konon karena ia menganggap bahwa perlakuan terhadap tenaga kerja paksa di tambang batubara "tidak pas". Ini membuat tuan-tuan lain tidak nyaman.

Menurut sobat karibnya H.T. Damste, meskipun telah bertugas di Aceh dan diterima baik di sana, hatinya telah tertawan oleh Ranah Minang. Keinginannya itu pada akhirnya terkabul juga. Sekembalinya dari cuti ke Belanda pada 1904 ia kembali ke Ranah Minang, ditempatkan di Kubang Nan Duo sebagai kontrolir Supayang, Tanah Datar. Selanjutnya ditunjuk sebagai kontrolir Oud Agam alias Agam Tuo yang berkedudukan di Bukittinggi.

Inilah barangkali masa-masa paling menggairahkan dalam kehidupan karir Westenenk. Hal ini terlihat dari apa yang dikerjakannya. Ia menggalang dana dan memperluas Pasar Atas, membangun Pasar Lereng dan Pasar Bawah serta Janjang 40. Ia menggagas Pasar Malam di Bukittinggi (yang ia sebut Pakan Malam) serta menyelenggarakan pacu kuda di Bukit Ambacang secara rutin.

Dengan kefasihannya berbahasa Minang membuat tidak ada hambatan komunikasi baginya dalam menyampaikan gagasannya kepada masyarakat. Bahkan pada saat cuti ke Belanda tahun 1910, ia bersedia membawa serta 2 orang pemuda asal Koto Gadang untuk dimasukkan ke sekolah guru di Belanda. Tak heran, masyarakat pun punya nama khusus untuknya. Bukan Tuan Kontrolir, tapi Tuan Siteneng. Plesetan lidah si Minang atas namanya.

Ia juga rajin menulis tentang Ranah Minang yang dipublikasikan di Batavia. Tak kurang dari 20-an artikel dan jurnal yang dimuat dalam berbagai terbitan. Temanya beragam. Mulai dari soal nagari dan wilayah, adat dan budaya masyarakat, penyelenggaraan Pakan Malam, sampai panduan wisata ke Bukittinggi dan sekitarnya. Selain itu ada soal Perang Padri, candi Muara Takus, cerita tentang binatang seperti buaya dan harimau, sampai kepada hal-hal gaib seperti urang bunian maupun urang pendek di Kerinci. Hal ini menunjukkan minatnya yang mendalam terhadap segala hal yang ada di Sumatra Westkust.

Mungkin satu-satunya noda hitam Tuan Siteneng bagi orang Minang adalah perannya dalam menumpas pemberontakan pajak di Kamang pada tahun 1908. Ia lah -selaku kontrolir- yang memerintahkan tentara dari Fort de Kock untuk menyerang rakyat Kamang. Banyak korban di situ. Meskipun di pihak Belanda sendiri 7 orang tewas dan 14 terluka.

Selepas itu karirnya makin moncer. Tahun 1910 ia diangkat menjadi Asisten Residen Tanah Datar. 1915 Residen Bengkulu. 1920 Residen Palembang. 1921 Gubernur Sumatera Timur. 1924 anggota Dewan Hindia di Batavia.

Tahun 1929 karena alasan kesehatan istrinya, ia kembali ke Belanda dan mengajar Indologi. Mungkin karena dianggap cukup paham soal karakteristik orang muslim selama bertugas di Sumatera, pemerintah Inggris memintanya ke Yerusalem untuk membantu soal konflik Palestina - Yahudi. Namun belum sempat bertugas ke sana,  ia meninggal di Wassenaar, 2 Mei 1930.

Itulah sekelumit hikayat Tuan Siteneng.

(Sumber : KITLV; wikipedia; europeana.eu; dbnl.org)

Senin, 22 April 2013

Roehana Kudus dan Amai Setia (1911)


Bersempena dengan hari Kartini, ambo teringat dengan "Kartini Ranah Minang" yang gaungnya tidak semeriah ibu kita Kartini. Beliau adalah Rangkayo Siti Roehana Kudus.

Lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 20 Desember 1884 dari ayah yang bernama Mohamad Rasjad Maharadja Soetan dan ibu bernama Kiam. Roehana adalah kakak tiri dari Soetan Sjahrir dan sepupu H. Agus Salim. Roehana hidup di zaman yang sama dengan Kartini, dimana akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi.

Walaupun Roehana tidak bisa mendapat pendidikan secara formal namun ia rajin belajar dengan ayahnya, seorang pegawai pemerintah Belanda yang selalu membawakan Roehana bahan bacaan dari kantor. Keinginan dan semangat belajarnya yang tinggi membuatnya cepat menguasai materi yang diajarkan ayahnya. Dalam umur yang masih sangat muda Roehana sudah bisa menulis dan membaca, dan berbahasa Belanda. Selain itu ia juga belajar abjad Arab, Latin, dan Arab-Melayu.

Saat ayahnya ditugaskan ke Alahan Panjang, Roehana bertetanga dengan pejabat Belanda atasan ayahnya. Dari istri pejabat Belanda itu Roehana belajar menyulam, menjahit, merenda, dan merajut yang merupakan keahlian perempuan Belanda. Disini ia juga banyak membaca majalah terbitan Belanda yang memuat berbagai berita politik, gaya hidup, dan pendidikan di Eropa.

Roehana menetap di Koto Gadang setelah ibunya meninggal pada 1897 dan menikah dengan sepupunya bernama Abdul Kudus, seorang Sarjana Hukum pada usia 24 tahun. Selanjutnya ia bersama Rangkayo Rakena Putri mendirikan perkumpulan yang diberi nama Keradjinan Amai Setia pada 11 Februari 1911.  Amai sendiri artinya adalah ibu dalam dialek Agam. Jadi Amai Setia adalah ibu-ibu yang setia.


Sejak awal Keradjinan Amai Setia dimaksudkan untuk  bergerak dalam bidang sebagaimana yang tercantum dalam pasal 2 dari anggaran dasarnya yang berbunyi sbb : De vereniging stelt zich tot doel de pheffing van de Minangkabausche vrouw en tracht dit doel te bereiken door het geven van onderricht in schrijven, lezen en rekenen, het beheren van de hiishouding, goede manieren, fraaie handwerken en het verkopen van de werken van huisvlijt. Meningkatkan derajat wanita Minangkabau dengan jalan memberi pelajaran menulis, membaca, berhitung urusan rumah tangga, etiket, kerajinan tangan dan menjualkan hasil kerajinan tangan itu. Foto-foto koleksi KITLV tahun 1915 ini mungkin bisa mewakili kegiatan ibu-ibu yang setia itu.

Pada tahun 1915 Keradjinan Amai Setia mendapat pengakuan Rechtperson atau Badan Hukum dengan surat Putusan No. 31 tanggal 16 Januari 1915 dan pada waktu itu hampir seluruh penduduk wanita Koto Gadang menjadi anggotanya. Selanjutnya mulailah dibangun sekolah diatas sebidang tanah yang telah dibeli tahun 1916 dan dapat diselesaikan dan dipergunakan pada tgl 23 Februari 1919.

Tidak cukup hanya dengan itu, keinginan untuk berbagi cerita tentang perjuangan memajukan pendidikan kaum perempuan di kampungnya serta  ditunjang kebiasaannya menulis, Roehana Kudus selanjutnya menerbitkan surat kabar perempuan yang diberi nama Sunting Melayu pada tanggal 10 Juli 1912. Sunting Melayu merupakan surat kabar perempuan pertama di Hindia Belanda yang pemimpin redaksi, redaktur dan penulisnya adalah perempuan. Uniknya, surat kabar tersebut diterbitkan di Padang, sementara Roehana sendiri berdiam di Koto Gadang. Betapa sulitnya, mengingat segala hal yang serba terbatas waktu itu.

Sementara di Bukittinggi Roehana mendirikan sekolah Roehana School yang dilengkapi ruang pamer untuk hasil karya murid-muridnya. Reputasinya di Sunting Melayu ikut mendongkrak reputasi sekolah tersebut. Selanjutnya ia juga turut serta dalam pergerakan politik kebangsaan baik secara langsung maupun melalui tulisan-tulisannya yang membakar semangat.

Dalam selang beberapa tahun ke depan beberapa surat kabar juga sempat dibidaninya, antara lain Perempuan Bergerak dan Cahaya Sumatra. Demikianlah ia terus bergerak hingga akhir usianya pada 17 Agustus 1972 di Jakarta.

Ia menerima penghargaan sebagai Wartawati Pertama Indonesia pada 1974. Pada Hari Pers Nasional ke-3, 9 Februari 1987, Menteri Penerangan Harmoko menganugerahinya gelar sebagai Perintis Pers Indonesia dan pada tahun 2008 Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan Bintang Jasa Utama.

Begitulah kisah hidup pejuang emansipasi dari Ranah Minang. Setiap gerak langkahnya selalu tidak pernah  melepaskan diri dari identitas dan harkat ke-perempuan-annya. Ia yang telah berbuat nyata, namun tidak sepopuler Kartini.

(Sumber : Wikipedia, kotogadangpusako.com; KITLV)

Kamis, 11 April 2013

W.H. De Greve, The Explorer (1840 - 1872)

Pembangunan infrastruktur yang pesat  di Ranah Minang pada akhir abad ke-19 tidak bisa dipisahkan dari eksploitasi besar-besaran terhadap deposit batubara yang terdapat di Sawahlunto dan Ombilin. Sebutlah: Jalan, Jembatan, Jaringan Jalan Kereta Api, Pelabuhan, dan Gedung-gedung Perkantoran, hampir semua ada kaitannya dengan batubara. Bahkan untuk luar Jawa, Sumatra Westkust adalah juara-nya infratruktur pada saat itu.

Semua itu tentu karena cadangan batubara yang ada di Sawahlunto dianggap sangat besar sehingga pemerintah kolonial Belanda tidak segan-segan untuk menanam investasi secara besar-besaran dalam bentuk infrastruktur. Tapi siapa sebenarnya manusia di balik semua itu, yang bisa meyakinkan gubernemen di Batavia bahwa investasi itu adalah layak?

Adalah seorang insinyur pertambangan berusia 27 tahun yang memulai semua "kehebohan" itu. Namanya Willem Hendrik de Greve. Lahir di Franeker, Belanda pada 15 April 1840. Mendapat gelar mijn ingenieur dari Akademi Teknik Delft. Di-SK-kan untuk meneliti kandungan batubara Ombilin pada tahun 1867, meneruskan penelitian seniornya Ir. C. de Groot pada 1858. Sebelumnya pernah bertugas di Buitenzorg (Bogor) dan meneliti kandungan timah di pulau Bangka.

Tiga tahun setelah kedatangannya ke Ombilin, pada 1870, ia memberikan laporan lengkap ke Batavia tentang perkiraan kandungan batubara sebanyak 200 juta ton. Ternyata de Greve adalah seorang pemikir yang komprehensif. Ia tidak hanya meneliti tentang kandungan batubara-nya saja tapi ia pun juga telah membuat rencana sistem transportasi yang cocok untuk pengangkutannya. Laporan inilah yang menjadi awal segalanya. Pada 1871, laporan ini ia publikasikan dengan judul Het Ombilien-kolenveld in de Padangsche Bovenlanden en het Transportstelsel op Sumatra’s Weskust (Tambang Batubara Ombilin di Dataran Tinggi Padang dan Sistem Transportasi di Sumatra Barat). Negeri Belanda pun buncah.

Setelah publikasinya yang mengegerkan itu, de Greve tetap melanjutkan penelitiannya di tengah kesunyian belantara jantung Sumatra. Namun seperti kata pepatah mujua sapanjang hari malang sakijok mato, dalam petualangannya kali ini de Greve mengalami kecelakaan. Konon, perahu yang ditumpanginya terbalik di batang Kuantan pada 22 Oktober 1872. Ia tewas dalam kejadian itu.

Jenazahnya kemudian dikuburkan di Durian Gadang Silokek di Sijunjung. Foto bertanggal sama dengan tanggal kematiannya di atas memperlihatkan situasi makamnya pada saat itu. Pada sebuah tanah yang cukup lapang, dinaungi pohon-pohon besar, diantaranya terlihat pohon kelapa, jenazahnya disemayamkan. Makamnya dibuat beratap pelepah daun, mungkin kelapa atau rumbia. Berpagar dahan dan ranting kayu. Tentunya agar makam tersebut tidak digali oleh binatang buas, sesuai dengan kondisi pada saat itu. Sungguh sangat sederhana jika dibandingkan dengan kekayaan yang kelak dihasilkan oleh penelitiannya.

Dibelakang hari, kuburan itu diberi batu nisan seperti nampak pada foto di sebelah. Di atas batu pualam itu terpahat tulisan  Hier rust de mijn ingenieur W.H. de Greve den 22″ October 1872 door een ongelukkig toeval alhier omgekomen R.I.P. yang kurang lebih berarti: Di sini beristirahat dengan tenang insinyur pertambangan W.H. de Greve yang pada 22 Oktober 1872 meninggal di tempat ini karena kecelakaan.

Ironis, karena ia tidak sempat menyaksikan dampak dari hasil jerih payahnya. Pada 1891 tambang mulai dibuka. Tahun 1887-1894 jalur kereta api Padang-Sawahlunto dikerjakan. Tahun 1888-1893 pelabuhan Emmahaven diselesaikan.

Namun ternyata ia tidak dilupakan begitu saja. Sebuah taman di kota Padang dinamai Greveplein (Taman Greve), lengkap dengan sebuah monumen yang diberi nama Monumen De Greve. (lihat disini) Selain itu, dermaga di tepian Batang Arau, tak jauh dari Greveplein,  juga dinamakan De Grevekade (Dermaga De Greve).

Tapi tu dulu. Kini adakah para juragan baro masih kenal dengan nama itu? I doubt it......

(Sumber : teraszaman.blogspot.com; wikipedia; niadilova.blogdetik.com; KITLV)

Minggu, 07 April 2013

Tambang Emas Salido (1669 - 1928)


Saat ini sedang heboh-hebohnya soal illegal mining emas di Solok Selatan, yang konon menghasilkan 60 kg emas perhari (!). Dikabarkan bahwa ada  sekitar 300 eksavator yang mengeruk sepanjang Sungai Batang Hari yang melalui kabupaten tersebut. Konon lagi, penggantian Kapolda Sumbar beberapa waktu lalu juga terkait dengan soal emas ini. Tapi bagi ambo agak lucu juga kalau eksavator yang berjumlah ratusan itu disebut illegal. Karena yang illegal itu biasanya kan sembunyi-sembunyi. Nah, sekarang bagaimana caranya eksavator bekerja secara sembunyi-sembunyi? Mau datang lewat mana dia? Diantar pakai helikopter? BBM-nya beli dimana? Naik helikopter juga? welehweleh...

Ya, kita hentikan saja pembicaraan soal Solok Selatan. Pihak yang berwenang sedang mengurusnya.  Yang jelas kasus ini mengingatkan ambo kepada tambang emas yang konon tertua di Indonesia, yaitu tambang emas Salido di dekat Painan.

Sebenarnya kemasyhuran pulau Sumatera sebagai Swarna Dwipa atau Pulau Emas sudah lama terdengar oleh bangsa Eropa melalui cerita-cerita para pelaut dari Timur. Konon para raja yang berkuasa di Swarna Dwipa menggunakan emas selain untuk alat tukar juga untuk menghias istana. Bahkan untuk melempari ikan di kolam di kerajaan Dharmasraya sang raja menggunakan batangan-batangan emas. Begitulah saking kayanya dengan emas. Sementara daerah yang dianggap sebagai biang emas adalah daerah di sepanjang aliran sungai ke Samudra  Hindia yang berhulu di Bukit Barisan.

Salah satu negeri yang tercatat dalam catatan bangsa Eropa memiliki tambang emas itu adalah Salido.  Dalam catatan kolonial disebut Salida. Berasal dari bahasa Portugis yang berarti Jalan Keluar. Memang Salida adalah pintu gerbang (atau jalan keluar) bagi bangsa Eropa untuk keluar dan masuk ke pulau Sumatera dari  Loji/Benteng mereka yang berlokasi di Pulau Cingkuak. Pulau Cingkuak sendiri posisinya tepat berada di depan Salido. Nama Salida mulai populer ketika VOC mendapat konsesi untuk berdagang di pantai barat Sumatera melalui Perjanjian Painan pada Mei 1662.

Tambang emas Salido sebenarnya sudah ditambang secara tradisional oleh masyarakat. VOC baru mengeksplorasinya pada tahun 1669 dengan mendatangkan 2 ahli pertambangan yaitu Nicolaas Frederich Fisher dan Johan de Graf. Hasil penelitian keduanya melaporkan bahwa tambang itu layak untuk dieksploitasi. Karena itu didatangkanlah budak-budak dari Madagaskar serta tawanan perang untuk dipekerjakan sebagai buruh tambang disana.

Pada bulan Juli tahun 1679 sampailah di Salido seorang insinyur baru yang bernama Johann Wilhelm Vogel asal Jerman. Rupanya ia seorang yang rajin mencatat. Beberapa tahun kemudian ia membuat buku tentang pengalamannya bekerja di tambang Salido. Sketsa dibawah dibuat berdasarkan catatannya pada tahun 1685.(click untuk memperbesar)


Dari sketsa terlihat bahwa tambang emas Salido berbeda dengan tambang emas illegal mining-nya Solok Selatan. Kalau di Solok Selatan emasnya berada di dalam batang air sehingga perlu dikeruk dengan eksavator, maka di Salido emasnya berada di perut bukit. Sehingga perlu dibuat lubang seperti tikus untuk menambangnya. Ke dalam lubang tikus itulah para pekerja bekerja. Bisa dibayangkan menyuruk ke dalam tanah dengan teknologi abad ke-17, tentulah sangat beresiko tinggi. Tak ayal tingkat kematian buruh tambang disini juga tergolong tinggi.

Barak pekerja terlihat berada di pintu masuk lubang tambang, baik di kaki bukit maupun di atas bukit. Yang di atas bukit dihiasi dengan bendera triwarna. Sedangkan di pinggang bukit terdapat sebuah bangunan yang ditulis sebagai "Laboratorium". Tidak dijelaskan apa kegunaan laboratorium itu.

Tambang ini sempat buka-tutup beberapa kali karena merugi. Manajemennya pun bergantiganti. Namun menurut studi yang dilakukan oleh R.J. Verbeek yang pernah menulis beberapa buku tentang Tambang Salido, antara 1669-1735 sudah 800 ton bijih emas yang dihasilkan Tambang Salido, dengan nilai f 1 200 000 atau rata-rata f 1 500 per ton.

Akhirnya pada tahun 1928, tambang ini resmi ditutup (kembali) karena bangkrut. Meskipun di dalam perut bukitnya masih terkandung emas. Namun biaya eksploitasinya tidak sebanding dengan hasilnya. Sisa-sisa emas inilah yang ditambang oleh masyarakat sampai sekarang. Tapi hasilnya sungguh berbeda jauh dengan yang di Solok Selatan...

Sebagai kenang-kenangan, dua orang "Toean" berpose di depan lubang tambang Salido yang diberi nama lubang Prinse (Pangeran) pada 14 Agustus 1914. Kalau di dalam sketsa-nya Vogel diatas, lubang ini adalah lubang yang berada di kaki bukit. Saat foto ini diambil, manajemen tambang sedang giat-giatnya melakukan upaya penyelamatan tambang dari kebangkrutan. Walaupun akhirnya gagal juga.

Dengan teknologi modern sekarang, mungkinkan Swarna Dwipa dihidupkan kembali?



(Sumber: http://niadilova.blogdetik.com; adlenaline.wordpress.com; kitlv)

Jumat, 22 Maret 2013

Sekolah Pastor di Taluak? (1910)


Beberapa hari setelah ambo memosting tentang sebuah surau yang berbentuk agak "ganjia" di nagari Taluak -pinggiran kota Bukittinggi- (lihat disini), salah seorang kakak laki-laki ambo menginformasikan bahwa dirinya juga menemukan bangunan yang juga "ganjia" saat browsing-browsing. Lokasinya? Masih di Taluak.

Bangunan di atas jika dilihat dengan perspektif sekarang tidaklah aneh. Semenjak pak Harun Zain jadi gubernur dengan slogan mengembalikan harga diri urang awak setelah peristiwa PRRI saisuak, atap berbentuk gonjong wajib menjadi penutup bagian atas bagi semua bangunan pemerintah di Ranah Minang. Menurut beliau untuk menunjukkan identitas ke-Minang-an. Jadi apapun mode bangunannya, atapnya harus bagonjong.

Tapi lain halnya dengan perspektif masa itu. Rumah bagonjong adalah rumah tradisional. Dindingnya kalau tidak terbuat dari tadia (anyaman bambu) ya dari papan berukir. Tidaklah lazim bangunan "modern" beratapkan gonjong. Modern disini maksudnya adalah rumah batu atau berbahan baku adukan semen.

Tapi lihatlah foto diatas. Sebuah rumah batu berwarna putih beratap gonjong berdiri kokoh tinggi menjulang diantara jejeran rumah berbahan "tradisional". Arsitekturnya juga ke-belanda-belandaan. Terlihat juga bahwa rumah ini berada di tengah kampung, tidak terpencil. Banyak tetangganya. Apalagi di sebelahnya ada kolam yang cukup luas. Bisa jadi berisi ikan gurami, mujair atau paweh.

Arsitektur yang cukup berani pada masanya. Akan lebih berani lagi jika kita baca caption foto yang dipajang oleh Tropen Museum: Priesterschool Taloeg bij Fort de Kock. Sekolah pastor Taluak dekat Fort de Kock. Tahunnya antara 1910-1930,  tanpa tambahan keterangan lain.

Pertanyaan langsung mengawang dalam pikiran. Benarkah di Taluak pernah ada sekolah pastor? Kalau benar ada, kok bisa? Karena takut dengan Belanda atau karena ada alasan lain? Atau ada Taluak lain di dekat kota Bukittinggi? Atau....

Sekelebat imajinasi liar mengisi kepala kakak laki-laki ambo tadi. Jangan-jangan bangunan Surau Ngarai yang unik itu dihadiahkan oleh Belanda sebagai imbalan kepada penduduk nagari Taluak karena telah bersedia "menerima" pendirian lokasi sekolah pastor ini di nagari mereka........

Jika ditelisik lebih dalam bisa saja hal itu terjadi. Pertama, kedua bangunan itu -baik surau maupun sekolah pastor- bercorak arsitektur yang tidak umum terdapat di dalam sebuah kampung di Ranah Minang pada masanya. Kedua, masa foto ini diambil hampir bersamaan. Seolah ada hubungan antara mereka. Foto Surau Ngarai bertahun 1900-1925 sedangkan foto Sekolah Pastor bertahun 1910-1930.

Mungkinkah? Entahlah. Tapi yang jelas sebenarnya masih ada satu bangunan "ganjia" lagi di dalam foto ini. Lihatlah kesebelah kanan foto. Ada bangunan bulat berwarna putih, beratap gelap meruncing keatas dengan jendela atau motif lengkung-lengkung. Apa itu? Sekali lagi, entahlah. Mudah-mudahan saja masih ada foto berikutnya dari Taluak.....

(Sumber : Tropen Museum)